Seghimol

Seghimol
'Seghimol' dalam bahasa Lampung yang berarti Srigala. Hewan ini ternyata juga hidup di Lampung, dan menjadi musuh warga yang peternak ayam atau unggas lainnya. Tapi seghimol juga menjadi hewan penjaga yang sangat berani. Asal jangan jadi 'Seghimol Bukawai Napuh'

Minggu, 27 Agustus 2017

Janji Sebudi

SEMBARI duduk di kursi dalam kamarnya, Kacung menggumamkan Hahiwang yang baru saja di bacanya dalam tulisan H Fauzi Fattah, dosen UIN Raden Intan Lampung. Koran edisi 20 Juli 2013 itu ditemukannya dari bungkusan barang belanjaan sahabatnya, Inem, di dapur, pagi itu. .... Niku mena bulamban (Kamu duluan berkeluarga).... Nyak tinggal cadang hati (Saya menahan sakit hati)... Mejong nyak dilambung jan (Duduk di atas tangga)... Miwang ngagigik jakhi (Menangis gigit jari) ... Mati sakik ni badan (Alangkah sakitnya badan) ... Bukhasan kena budi (Berencana nikah kena bohong) ... "Memang terasa kalau dibohongi dengan janji. Sakitnya tuh di sini...." gumam Kacung sambil tersenyum sendiri di kamar. Tiba-tiba muncul sahabatnya, Inem, dan menegurnya dengan jeritan. "O alah, Bang.... di sini toh. Pantesan siang ini belakang rumah sepi tanpa dirimu." "Ana kidah... niku, Nem, tekanjat sikindua. Orang lagi asyik dengan Hahiwang, syair kepedihan nasib bahasa Lampung," kata Kacung. "Begini, Nem, kalau cakhani sekam kik sakik ati, bupantun. Bukannya dendam dan anarkis." "Memang begitu adat istiadat yang baik itu, Bang. Tetap berbesar hati walau telah dibohongi, berserah diri. Gusti mboten sare...," kata Inem. "Jangan seperti janji politik. Lain yang dijanjikan, lain pula yang dilakukan," ujar Inem. "Seno do Nem sai Janji Sebudi itu. Waktu kampanye, banyak yang dijanjikan yang mbangun ini-itu, bantuan ini-itu. Waktu mereka sudah jadi, ingat pun tidak," ujar Kacung. "Tapi rakyat tetap saja memilihnya, apa sebab? Halok manei-plitik ya." "Ya seperti mbangun dengan uang utang. Enak wae utang, sing mbayar yo kawulo. Kalau tidak menjabat lagi, aman dia. Lah awak dewe sing terus mbayar utange, flyover ora dadi-dadi," keluh Inem. (baca : lampost.co) Kacung langsung menimpali, agar sahabatnya tidak terlalu jauh bicara politik. "Itulah, Nem, janji politik sama dengan janji sebudi. Jadi politik sama dengan sebudi... wah... udah, Nem, jangan keterusan, bahaya." Kacung terus nyerocos, "Janji sebudi itu... sakitnya tuh di sini," kata Kacung sembari menunjuk arah dadanya. "Alah, Bang... lha sampean janji-janji arep ngerabi opo udu janji sebudi. Ayo kapan realisasinya," kata Inem. Astaghfirullah... sumber : https://goo.gl/RTPhno

Tidak ada komentar:

Posting Komentar