Seghimol

Seghimol
'Seghimol' dalam bahasa Lampung yang berarti Srigala. Hewan ini ternyata juga hidup di Lampung, dan menjadi musuh warga yang peternak ayam atau unggas lainnya. Tapi seghimol juga menjadi hewan penjaga yang sangat berani. Asal jangan jadi 'Seghimol Bukawai Napuh'

Kamis, 07 Mei 2009

LIDAH


"LIDAH itu bagian kepala yang paling enak dimakan. Apalagi lidah sapi." Begitu kata Kacung kepada temannya, Inem, babu tetangga sebelah majikan. "Tapi hati-hati kalau disajikan orang lidah komodo atau ular. Bisa tetanus berkepanjangan," lanjutnya.

"Iya. Saya juga suka sekali kok dengan lidah buaya. Selain bisa menghaluskan rambut, juga mengobati panas dalam," jawab Inem.

"Hus... itu beda geh. Kalau buaya itu bukan lidahnya yang dikonsumsi orang tapi tangkur buaya. Biar kuat," kata Kacung sembari matanya berkedip-kedip ke arah Inem.

Ngobrol dengan Inem tentang lidah membuat Kacung ingat mandornya saat kerja bangunan yang suka menjulur-julurkan lidah, Abas. Suatu saat Kacung pernah dibentak Sang Mandor. "Hei Kacung, apa kerjaan kamu. Bangunan ini tak berdiri-diri kalau kamu istirahat terus, kan saya nanti yang bakal ditegur," entak mandor itu.

"Maaf bos, saya masih makan siang dan mau ngaso sebentar," jawab Kacung.

"Nggak bisa gitu. Kamu harus ingat lidah saya ini mujarab ke bos, jadi kamu harus ikuti perintah saya. Saya ini kan atasan kamu. Jangan banyak alasan," kata mandor.

"Oke bos," kata Kacung sembari melengos.

Dan karena lidahnya sendiri pula sang mandor kemudian dipecat oleh pemborong bangunan itu.

***

Menanggapi rekasi lidah Kacung, Inem mempunyai pendapat lain. "Saya juga ingat rambut saya mengilat kembali setelah diberi lidah buaya." Karena dorongan "lidah" majikan supaya saya pakai lidah buaya, akhirnya saya terpilih lagi jadi Ketua Forum Babu Nyentrik (FBN).

Suatu saat Inem ditegur majikannya.

"Nem, mengapa rambut kamu kusam. Coba kalau kamu pakai lidah buaya, pasti mengilat," kata majikannya.

"Iya nyah (panggilan babu pada majikan)," kata Inem.

Akhirnya setelah intervensi majikan agar memakai lidah buaya, rambut Inem kembali segar. Dan pada pemilihan ketua organisasinya, para babu lain terkesima hatinya dan kembali memilih Inem sebagai calon tunggal.

***

Lidah memang tak bertulang. Maka jika bereaksi akan langsung terasa efeknya, sampai ke otak maupun ke hati. Sangat wajar jika calon penguasa memanfaatkan lidahnya dengan cara mereaksikan sesuai kondisi. Tak heran kalau musim pemilu ini seluruh penjuru dipenuhi "juluran lidah" yang direaksikan ke otak atau hati roang banyak. Tak ada maksud lain, kecuali agar harapannya merasuk ke dalam otak dan hati sehingga tangan orang mau mencontengnya.

"Ingat Bapak-Bapak, kalau saya terpilih nanti, pokoknya semuanya beres. Apa pun keluhan bapak-bapak akan saya perjuangkan nantinya," begitu silat lidah calon penguasa.

Tapi saat menghadapi bawahannya, calon penguasa menggunakan lidahnya dengan nada berbeda. "Ingat kalau kalian tidak bisa menggerakkan orang untuk menconteng, akan tahu akibatnya. Dan juga kembalikan, apa yang sudah saya beri!!!." Silat lidah calon penguasa kali ini menggunakan jurus kuncian yang mematikan.

Ya memang lidah itu adalah obat mujarab. Jika digunakan untuk kebaikan, kemujarabannya bisa mengangkat derajat. Tapi karena lidah juga, derajat seseorang akan turun. Subhanallah n MUSTAAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar