Seghimol

Seghimol
'Seghimol' dalam bahasa Lampung yang berarti Srigala. Hewan ini ternyata juga hidup di Lampung, dan menjadi musuh warga yang peternak ayam atau unggas lainnya. Tapi seghimol juga menjadi hewan penjaga yang sangat berani. Asal jangan jadi 'Seghimol Bukawai Napuh'

Jumat, 08 Mei 2009

Si Kacung

Suatu hari, seorang majikan memanggil kacung di ruang keluarga rumahnya. Majikan harus menegaskan bahwa kacung harus keluar dari rumahnya, tetapi disiasati dengan kata-kata yang bijak. "Kamu tidak bisa menjadi bagian dari keluarga, sebab kamu tidak pandai baca-tulis," kata majikan. "Mengapa begitu? Saya sudah mengabdi sekian lama, masa tidak ada pertimbangan. Apalagi, saya memang tahu dan seneng banget dengan keluarga ini," jawab kacung. "Kamu harus punya ijazah kursus baca-tulis, tak perlu bisa baca-tulisnya," timpal majikan.

Dengan gontai kacung keluar dari ruang, pikirannya menerawang mencari-cari cara dapat bertahan pada pekerjannya. Walaupun hasil dari pekerjaan kacung itu harus dapat di-manage-nya agar dapat menghidupi keluarga.

Hasil yang sewajarnya dapat digunakan untuk dua pekan, harus "diolah" agar bisa bertahan sampai satu bulan. "Ini harus dapat "diolah" lagi supaya bisa disisihkan untuknya kursus baca-tulis," pikirnya. Dan, kacung pun terlelap di kursi panjang yang terpajang di tengah taman samping rumah majikannya.

Wah... bakal jadi kacung abadi yang kerjanya hanya disuruh sana sini, tanpa bisa memberi solusi pada setiap kejadian yang menimpa rumah majikannya. Padahal, kacung merasa kalau untuk pemikiran tidak kalah dengan anak-anak angkat majikannya yang juga beberapa ada yang tidak bisa baca-tulis. Kacung tahu betul bagaimana cara kerja agar keluarga majikannya terasa nyaman dan terpandang di daerah itu.

"Ini memang kesepakatan antara kakek, nenek, istri, dan saya, bahwa anggota keluarga sekarang harus bisa baca-tulis. Biar kita terlihat "hebat" oleh Pak RT, Pak RW, dan Pak Lurah. Tenang, keluarga kami akan membantu biaya kursus kamu," kata majikan.

Mulailah kacung bertanya ke sana ke mari, untuk mencari tempat kursus yang bagus. Banyak kawan-kawan kacung dari rumah tetangga majikannya yang memberi informasi. Di Kursus "ABC" bisa mengeluarkan ijazah kursus tanpa harus kursus, di Kursus "DEF" bisa membuatkan ijazah tapi bentuknya fotokopi, dan Kursus "GHI" harus benar-benar tahu baca-tulis. Tapi, semuanya memang harus ada biayanya, besarnya sebanding dengan 10 tahun gaji kacung, ada juga yang lima tahun gajinya.

Tapi tenang saja, pikir kacung. Karena biaya kursus yang manapun akan dibantu oleh keluarga majikannya. Yang penting dia dapat ijazah, jadi keluarga majikan dan "niat baiknya" untuk membantu lebih dari sekadar suruhan saja dapat tercapai. Semua berkas pendaftaran dari tempat kursus dikumpulkannya dan ditimbang mana kira-kira yang bakal menjadi tempatnya mendapat ijazah. Tapi.....

"Hey Kuncung, bangun!!!!" Begitu teriak majikan perempuannya. Dengan mata merah padam, sang majikan perempuan itu berteriak bahwa keluarganya tidak akan membantu seorang kacung. Karena hanya anggota keluarga yang tidak bisa baca-tulis saja yang akan di biayai kursus. "Dan, kamu saya kutuk selamanya menjadi "kacung"," ujar majikan.

Begitulah kisah awal mula mengapa orang yang disuruh ke sana ke mari dan tidak bisa baca-tulis disebut "kacung". Untuk sebutan-sebutan lainnya mungkin dengan kisah seperti itu, sebutan wartawan juga berawal dari seorang "juru lapor" yang mungkin juga tidak bisa baca-tulis bernama "wartawan". Akhirnya, seorang wartawan agar dia menjadi redaktur atau pekerjaan lain harus punya ijazah baca-tulis. n MUSTAAN

Tidak ada komentar:

Posting Komentar