Seghimol

Seghimol
'Seghimol' dalam bahasa Lampung yang berarti Srigala. Hewan ini ternyata juga hidup di Lampung, dan menjadi musuh warga yang peternak ayam atau unggas lainnya. Tapi seghimol juga menjadi hewan penjaga yang sangat berani. Asal jangan jadi 'Seghimol Bukawai Napuh'

Kamis, 09 Desember 2010

Nuansa Bening

'Ngekilik'

DUNIA sempat menjadi tergelitik akibat banyaknya bocoran data 'yang katanya' penting terkait Amerika Serikat. Bagaimana tidak... ternyata orang-orangnya yang ditempatkan di negara lain mencari informasi penting di tempatnya yang dilaporkan ke negaranya. Tuduhan, celaan, makian atau hinaan menjadi topik dalam laporan itu.
"Hebat memang ya Nem.. mamak Singi (Julian Assenge) itu. Jadi orang terkenal dia," kata Kacung setelah membuka berita dari internet di 'hape' Cinanya, suatu hari.
"Dia bisa ngekilik (menggelitik) orang untuk saling tuduh dan curiga. Makanya dia buat lamanya dengan nama wewewe dot kekilik dot com, jadi semua ngerasa geli."
Inem jadi bengong dengan pernyataan Kacung yang mak nyambung itu. "Kekilik com apa sih bang. Nek ora ngerti ojo ngomong (kalau tidak paham, jangan bicara)," jawab Inem.
"Itu loh Nem.. yang sering keluar di koran yang nyebut 'ibu' kita koruptor. Emang dari siapa sih di pelapor itu dapat informasi?" Kacung mencoba menjelaskan ke Inem.
"Oalah... WikiLeaks to bang. Sttttt.. tapi diam-diam saja ya bang, sebenarnya saya yang ngasih info itu. Soale aku dikasih rumah, montor dan tanah di kampung sama pejabat asing itu," kata Inem.
"Tapi akhirnya saya kapok bang, karena saya disuruh mengadu domba Jakarta dan Yogyakarta. Sebagai agen saya tetap punya nilai nasionalisme bang."
Inem terus nyerocos. Kata dia, semua bangsa di dunia ini disuruh sama dengan Amerika dan barat yang ternyata tidak lebih demokrasi dibanding Indonesia.
"Liat saja mereka, masih mengakui ratu Inggris, londo dan lainnya. Sementara Sri Sultan Ngayogyokarto tidak lebih berkuasa dibanding ratu mereka. Di Indonesia kan cuma ada satu yang berkuasa setingkat Presiden, yaitu 'Ratu Kidul' penguasa pantai selatan Jawa."
"Alah cawa api niku (ngomong apa kamu) Nem. Kok saya malah pusing," kata Kacung.
Inem tak mau kalah. "Ya itu abang Kacung. kita ini orang kecil jadi nggak usah ngomong kayak gituan. Sekali saya jelaskan sedikit aja bingung. Labih banyak hal lain yang pantas dibicarakan seperti kemanusiaan di Palestina, daripada kekilik itu," kata Inem. Astaghfirullah. (MUSTAAN BASRAN)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar